Jumlah Pengunjung

Minggu, 27 Desember 2015

Guru Berprestasi

Guru SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini berperan dalam penulisan buku Secangkir Kopi Naif-Rifai dan Mendidik Remaja Nakal hasil karangan dari Dr. Mustofa Abu Sa'd. Muhammad Rifai, S.Ag, M.Si kelahiran Boyolali ini berusaha untuk ikut membantu para pendidik dan orangtua berkaitan dengan pencarian solusi permasalahan remaja. Ibarat menu makanan, buku ini cukup bergizi, rasanya renyah dapat dikunyah dengan mudah dan enak dibaca.
Seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr. Djamaluddin Darwis. MA. (Guru Besar Pendidikan IAIN Walisongso Semarang) dan Rektor Unimus berikut ini.

Bismillahirrahmanirrahim


Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt atas segala karunia dan pertolongan yang Allah berikan kepada kita semua. Kita semua telah memahami perjalanan hidup manusia, bermula pada saat  masih dalam kandungan, berlanjut pada kelahiran bayi dan masa anak, kemudian masa remaja dan dewasa, yang berujung pada masa senja jelang akhir kehidupan umat manusia.  Masing-masing tahap kehidupan ada krakteristik yang unik, ada beragam permasalahan yang muncul dan menuntut penyelesaian solusi yang bervariasi sesuai dengan karakteristik permasalahannya.
Masa remaja juga memiliki keunikan yang berbeda dengan tahapan kehidupan sebelumnya atau sesudah lepas masa remaja. Remaja bukan lagi anak-anak, dan tidak mau dianggap anak. Demikian pula belum disebut dewasa, masih serba canggung dan belum diterima sebagai bagian masyarakat dewasa. Tahap kecanggungan remaja adalah sudah bukan anak, tetapi dewasapun juga belum, ibarat berdiri di atas batu  bergoyang, yang lewat telah dilalui yang di depan belum bisa ditapaki. Ketika seorang anak akan melangkahkan tapak kakinya menuju kedewasaan, dia  melewati dan menginjakkan kakinya di batu bergoyang lebih dahulu yang disebut masa remaja. Mengapa disebut batu bergoyang? Karena ada goncangan dinamika biologis dan psikologis yang sangat luar biasa. Pertumbuhan postur tubuh berjalan sangat cepat, perobahan organ tubuh dan suara menuju ke titik kemapanan yang stabil, yang secara fisik tampak dewasa. Namun dalam tataran psikologis jiwanya masih bergejolak  dalam proses bertransformasi mencari identitas diri, mencari jawaban atas pertanyaan pada dirinya sendiri Who am I? 
Dalam masa pencarian itulah remaja berhadapan dengan beragam  permasalahan, dan memerlukan jawaban yang tepat. Lingkungan sosial ikut membentuk jiwa remaja, menolong mencarikan jawaban. Ironisnya jawaban yang diberikan kadang tidak ikut membantu menyelesaikan permasalahannya, tetapi justru menimbulkan masalah baru dan kadang justru menjauh dari jawaban yang sebenarnya. Akibatnya proses pembentukan pribadi menjadi jauh dari yang diharapkan, dan tidak mustahil menjadi remaja yang tidak bermasa depan.
Buku karangan Dr. Mustofa Abu Sa’d yang dipilih untuk diterjemahkan dan  disajikan oleh Saudara Muh. Rifai  ini berusaha untuk ikut membantu para pendidik dan orang tua berkaitan dengan pencarian solusi permasalahan remaja. Ibarat menu makanan, buku ini cukup bergizi, rasanya renyah dapat dikunyah dengan mudah dan enak dibaca.  Sajiannya cukup praktis dipaparkan secara realitis, berdasarkan pada gejolak psikologi remaja. Menu ini  bukan hanya sekedar suplemen makanan, tetapi justru bagian dari menu utama yang akan membantu para orang tua dan pendidik untuk membimbing remaja dalam menstransformasi diri menuju kedewasaan. Remaja dengan beragam permasalahan yang dihadapi merupakan peserta didik yang potensial bagi negeri ini. Sementara negeri ini tentu  tidak akan mempertaruhkan masa depan bangsa dengan mengabaikan pendidikan. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, pemerintah, masyarakat, orang tua termasuk kita semua. Buku  yang cukup  kontributif ini dapat  dijadikan salah satu referensi dalam penanganan masalah remaja, buku ini patut dibaca oleh kita semua, baik sebagai pendidik, orang tua atau pemerhati remaja.

Semoga buku ini memberi manfaat bagi kita semua,  Amin.

Prof.  Dr. Djamaluddin Darwis. M.A
Guru Besar Pendidikan IAIN Walisongo Semarang
Rektor UNIMUS





Tidak ada komentar: